DIDI MAULANA - Dalam sebuah forum diskusi akal sehat yang diadakan di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada Jum'at 19 Mei 2023 silam banyak mengandung insight untuk orang yang berakal sehat.
Forum tersebut mengundang dua narasumber terkemuka yaitu Rocky Gerung bersama Guru Gembul yang mendiskusikan sebuah topik dengan tema "Diskusi Akal Sehat: Menyambut Pesta Demokrasi 2024" dan ditayangkan di Kanal Youtube Forum Diskusi Akal Sehat Indonesia.
Hal menarik pada forum tersebut yaitu ketika ada pertanyaan dari mahasiswa yang bernama Amduria Sialmana yang berasal dari Jurusan Ilmu Hukum UIN Jakarta.
Sialmana (Panggilan singkatnya), melontarkan 3 pertanyaan kepada Narasumber, namun 1 pertanyaan yang menggelitik untuk mahasiswa yaitu ketika ditanya soal posisi mahasiswa di era sekarang.
Kita tahu bahwa di zaman yang serba sulit di era sekarang ini, bukan hanya bahan pokok dan mencari duit saja yang kian sulit untuk dicari, namun juga cara mahasiswa untuk bisa memaksimalkan perannya yang kian terjepit.
BACA JUGA: Buya Hamka: Biografi Singkat dan Peninggalan Pemikiran untuk Masa Depan
Sialmana menanyakan posisi mahasiswa karena menurutnya zaman dulu dengan zaman sekarang itu berbeda.
Dulu mahasiswa bisa menggulingkan presiden dengan kekuatan yang over powernya, namun semakin kesini malah kekuatan mahasiswa seakan kian melemah.
"Posisi mahasiswa ini kita harus berada didalam oposisi atau afirmasi pemerintah?" Jelasnya saat bertanya kepada narasumber.
Sialmana bertanya seperti itu karena ia berpengalaman dan juga menjadi seorang ativis mahasiswa yang turun langsung ke jalanan untuk menyuarakan kebenaran.
BACA JUGA: Mengenal Sejarah Banten Lama, Ibu Kota Kerajaan Banten yang Legendaris
Namun naas, seringkali suara ia dan teman-temannya tidak didengarkan oleh Pemangku kebijakan.
Kalah dengan Bima, seorang tiktoker asal Lampung yang beberapa bulan lalu viral dan menyuarakan Infrastruktur jalanan rusak yang ada di Lampung lewat sosial media.
Boom!!! Seketika pemangku kebijakan yang seakan-akan tuli dan tidak mau mendengar itu kemudian merespon suara Bima.
Bahkan orang nomor 1 di Indonesia yaitu Presiden Joko Widodo turun langsung untuk meninjau Lampung yang Jalanannya Rusak itu.
BACA JUGA: Kecintaan Sahabat yang Menemani Nabi Saat Hijrah Ke Madinah, Siapakah Beliau?
Lebih jelasnya, Sialmana menekankan pertanyaannya apakah mahasiswa tetap harus menjadi oposisi dari pemerintah atau menjadi afirmasi dari pemerintah dengan mendukung program-program baik yang dilakukan pemerintah.
Dengan tegas Guru Gembul menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pengalamannya menjadi mahasiswa.
"Waktu saya jadi mahasiswa, Saya diceramahin satu romantisme yang sama yaitu adik-adik mahasiswa! kalian harus ingat, bahwa bukan cuma satu presiden di Indonesia yang di lengserkan oleh mahasiswa" Ucap Guru Gembul.
Ia pun menjelaskan bahwa ternyata puluhan tahun setelah ia lulus jadi mahasiswa kata-kata tersebut masih ada.
Sehingga ia mengingatkan apabila ada ucapan yang berulang-ulang itu bisa jadi Doktrin.
BACA JUGA: Mengungkap Wisata Sejarah di Kota Tua Jakarta: Berpetualang ke Jejak Masa Lalu
Untuk pendapat ini penulis sepakat dengat pernyataan Guru Gembul, meskipun banyak juga argumen ia yang tak bisa presisi dengan penulis.
Anggapan mahasiswa zaman now yang sulit bergerak itu pada dasarnya selalu mengaitkan capaian mahasiswa zaman dulu dengan saat ini.
Padahal kita tahu bahwa beda zaman juga beda metode dalam menyuarakan kebenaran.
"Kalau di Zaman dulu kita harus berdemonstrasi dan akhirnya memunculkan reformasi, di era yang katanya sekarang bukan reformasi, Ganti teriakan dengan Tulisan!" Tegas Guru Gembul.
Memang mahasiswa zaman sekarang itu harus punya ide keatif untuk memunculkan gagasannya di depan publik.
Jika cara satu tidak efektif, maka ganti dengan cara lain, jika dengan berdemo tidak didengar pemangku jabatan, maka gantilah dengan membuat tulisan.
BACA JUGA: Mengetahui Lebih Dekat Keutamaan Puasa Syawal: Ibadah Setelah Ramadhan yang Tak Boleh Dilewatkan
Saat ini memang perlu adanya terobosan baru agar suara kita di dengar, bukan hanya sebatas gerakan turun ke jalan saja, namun bisa di mix dengan gerakan intelektual.
Kita bisa melihat, berapa banyak tulisan sampai ke media masa sehingga orang-orang diluar sana menjadikan tulisan tersebut sebagai bahan rujukan dalam berfikir.
Guru Gembul juga mengatakan bahwa Saat ini bukan hanya mahasiswa saja yang sulit untuk bergerak, namun semua orang susah untuk bergerak.
Tetapi penulis yakin bahwa dengan ilmu pengetahuan dan intelektualitas kita bisa mengembalikan fingsionalitas mahasiswa debagai agent of change dan agent of control.***
