DIDI MAULANA - Zaman sekarang banyak kaum mendang-mending, pengennya yang enak-enak dengan effort yang minimal. Seperti dapet Cuan tanpa harus keliatan kerja keras, padahal aslinya badan pun kerasa panas.
Suka bandingin, lebih baik ikut ini saja karena ngga cape, dapet Cuan dan di konversi SKS lagi. Mahasiswa mana yang tidak tergiur dengan benefit itu semua, dengan program pemerintah sekarang yang membuka lebar kesempatan untuk belajar diluar kampus. Bukan cuma belajar materi, tapi belajar nyari duit.
Ada juga yang bilang: "Jangan Ikut Organisasi Kampus, Bikin Cape! Mending Ikut MBKM Dapet Cuan".
Mungkin itu strategi pemerintah untuk menurunkan tingkat pengangguran sekarang, supaya masyarakat Indonesia punya kompetensi dan siap menghadapi dunia kerja. Tapi sangat dilema bagi organisasi kampus, banyak kader yang meninggalkannya bahkan hilang tanpa kabar hanya demi ikut program MBKM.
Iya, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau disingkat MBKM itu telah banyak membantu kemiskinan para mahasiswa, banyak yang terbantu karena tak sedikit yang mendapat penghasilan tambahan dari adanya program itu. Banyak juga yang mengatakan bahwa mereka, mahasiswa yang ikut MBKM mendapatkan pengalaman berharga di luar kampus.
Hanya memang, Sisi negatifnya itu, tak sedikit pula yang acuh dengan situasi kampusnya sendiri. Seakan-akan organisasi itu sudah tak penting untuk diikuti. Meski demikian untungnya program MBKM diperuntukkan bagi mahasiswa yang sudah menginjak semester 4 keatas, sehingga masih ada orang-orang yang mau berjuang di organisasi kampus.
Tapi, apakah memang betul organisasi kampus sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini?
Sebelum jauh menjawab pertanyaan ini, kita sepakati dulu bahwa organisasi kampus yang dimaksud adalah organisasi yang terikat oleh ideologis dalam lingkup internal dan eksternal kampus. Misalnya BEM, Himpunan, UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang berada dilingkungan internal kampus. Lalu ada juga organisasi seperti KAMMI, HMI, PMII, GMNI, dan lain sebagainya yang statusnya sebagai organisasi eksternal kampus.
Sebetulnya kita bisa menjawab pertanyaan tadi dari masing-masing individu. Apa yang mereka cari didalam organisasi. Tentunya setiap orang punya keinginan yang berbeda, barangkali ada yang ingin mengasah jiwa kepemimpinannya, memperluas relasi, atau hanya sekedar dapet sertifikat aktif organisasi untuk dilampirkan didalam CV.
Tapi kalau ditanya masih relevan kah organisasi kampus untuk mahasiswa, jawabannya sangat dan masih relevan. Karena mahasiswa sejak dulu bertindak sebagai agent of change dan social control bagi masyarakat. Tanpa organisasi sebagai wadah, tentunya gerakan mereka tidak akan terarah. Hanya saja penggerak organisasi ini harusnya mikir, apa yang perlu diinovasikan supaya tetap relate dengan perkembangan zaman.
Jangan lagi memakai cara-cara kuno atau bahkan meninggikan ego untuk mempertahankan senioritas. Karena itu juga menjadi salah satu alasan kenapa orang malas buat ikut organisasi. Sudah mah mumet dengan urusan tugas akademik, di organisasi juga sering kena marah senior, tambah buyar pikiran.
Rapat terus sampe larut malam, bikin kepala pening
Jadi anak organisasi kampus juga sering dikeluhkan dengan beban moral karena rapat organisasi yang mengharuskan pulang larut malam. Memang rapat itu penting, tapi sebagai penggerak organisasi juga harus tahu waktu, kapan harus selesai rapat tersebut. Jangan sampai mengorbankan jatah tidur anak orang.
Stigma Danusan bagi anak organisasi kampus
Lagi-lagi setiap orang punya tujuan masing-masing buat ikut organisasi, tidak semuanya ingin jadi enterpreneur. Tapi pada kenyataannya anak organisasi sering dipaksa buat jualan produk agar dapat pemasukan untuk kas organisasi. Iming-imingnya sih biar menumbuhkan jiwa enterpreneur, tapi seperti kerja rodi tanpa adanya apresiasi.
Jadi buat kamu penggerak organisasi, biar roda organisasimu tetap berputar, buatlah inovasi agar mahasiswa tertarik untuk ikut dan aktif disana. Tinggalkan cara lama yang membuat mahasiswa bosan bahkan capek setiap kali selesai ikut organisasi. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan agar organisasi bukan sekedar tempat mengasah skill, tapi rumah kedua tempat berpulang.
Buat kamu yang masih berstatus mahasiswa, kamu bebas menentukan pilihan. Mau ikut magang, kampus mengajar, pertukaran mahasiswa di program MBKM, atau ikut organisasi kampus, semuanya sah dan berhak kamu ikuti. Hanya, jangan sampai itu semua mematikan peranmu sebagai kaum yang berintelektual dalam berpikir, terutama peka terhadap masalah sekitar.
